h1

ANALISIS STRUKTUR MODAL PERUSAHAAN INDONESIA PRIMA PROPERTY Tbk BERDASARKAN DATA TAHUN 2004-2007

November 9, 2008

A. Analisis Hubungan antara Struktur Modal dengan Nilai Perusahaan

Perhitungan Debt to Equity OMRE

Tahun

Total Hutang Jangka Panjang

Total Equity

DER

Harga Saham

2004

Rp189.174.136.164

Rp235.344.402.617

0,803818

Rp110

2005

Rp158.436.164.776

Rp211.491.697.290

0,749137

Rp45

2006

Rp110.337.814.428

Rp242.272.274.949

0,455429

Rp300

2007

Rp80.817.671.346

Rp257.012.888.137

0,31445

Rp310

Tahun

Harga Saham

DER

2004

Rp110

80,38%

2005

Rp45

74,91%

2006

Rp300

45,54%

2007

Rp310

31,44%


Kurva ini menujukan hubungan antara Debt to Equity Ratio dan Harga Saham Penutupan dari tahun 2004 sampai 2007. Berdasarkan kurva diatas terlihat bahwa untuk jumlah modal yang dimiliki oleh PT Indonesia Prima Property yang berasal dari utang pada tahun 2004 sampai 2007 terus berkurang. Tahun 2004 Debt to Equity ratio sebesar 80.38%, hal ini menunjukan bahwa modal yang dimiliki oleh PT Indonesia Prima Property yang berasal dari utang sebesar 0.8038 kali lipat lebih dari modal sendiri, artinya struktur modal PT Indonesia Prima Property belum menunjukan nilai yang baik.

Tahun 2005 modal yang dimiliki oleh PT Indonesia Prima Property sebesar 74.91% berasal dari utang dan sebesar 25.09% berasal dari modal sendiri yang berarti bahwa modal yang berasal dari hutang lebih besar daripada modal yang berasal dari equity. Sampai pada tahun 2006 baru terlihat nilai dari struktur modal yang baik dimana struktur modal PT. Indonesia Prima Property yang berasal dari utang turun menjadi 45.54% dan modal sendiri sebesar 54.54%. Pada tahun 2007 pun, kinerja PT Indonesia Prima Property juga mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari struktur modal perusahaan yang sejak tahun 2004 hingga 2007 mengalami penurunan. Semakin rendah DER perusahaan maka semakin baik kinerja perusahaan.

Mengenai rata-rata penutupan harga saham PT Indonesia Prima Property dari tahun 2004 sampai tahun 2007 terus mengalami peningkatan, hal ini terlihat jelas di dalam kurva yaitu pada tahun 2004 penutupan harga saham sebesar Rp 110, harga penutupan ini mengalami penurunan menjadi Rp 45 pada tahun 2005, kemudian pada tahun 2006 kembali mengalami peningkatan menjadi Rp 300 dan akhirnya pada tahun 2007 meningkat menjadi Rp 310.

Struktur modal adalah perbandingan hutang jangka panjang (debt) dengan modal sendiri (equity). Keputusan struktur modal berkaitan dengan pemilihan sumber dana baik yang berasal dari dalam maupun dari luar dan sangat mempengaruhi nilai perusahaan. Sumber dana perusahaan dari internal berasal dari laba ditahan dan depresiasi. Dana yang diperoleh dari sumber eksternal adalah dana yang berasal dari para kreditur dan pemilik perusahaan. Pemenuhan kebutuhan dana yang berasal dari kreditur merupakan hutang bagi perusahaan. Dana yang diperoleh dari para pemilik merupakan modal sendiri.

Kebijakan mengenai struktur modal melibatkan trade off antara risiko dan return. Penambahan utang akan memperbesar risiko perusahaan tetapi sekaligus juga memperbesar tingkat pengembalian yang diharapkan. Risiko yang semakin tinggi akan menurunkan harga saham, tetapi tingkat return yang tinggi akan menaikkan harga saham tersebut. Struktur modal yang optimal adalah struktur modal yang mengoptimalkan keseimbangan antara risiko dan pengembalian sehingga memaksimumkan harga saham.

Kebijakan struktur modal akan berpengaruh positif terhadap nilai saham melalui kombinasi sumber dana (hutang jangka panjang dan modal sendiri) sehingga mampu memaksimalkan nilai saham. Dalam kondisi tertentu perusahaan dapat memenuhi kebutuhan dananya dengan mengutamakan sumber-sumber dari dalam perusahaan, akan tetapi adakalanya juga perusahaan menggunakan dana yang berasal dari luar perusahaan yaitu berupa hutang (debt).

Penggunaan hutang dalam suatu perusahaan akan menaikkan nilai saham, karena adanya kenaikan pajak yang merupakan pos deduksi terhadap biaya hutang, namun pada titik tertentu penggunaan hutang dapat menurunkan nilai saham karena adanya pengaruh biaya kebangkrutan dan biaya bunga yang di timbulkan dari adanya penggunaan hutang.

Ada 3 teori struktur modal, yaitu Modigliani-Miller (MM), Trade-off Theory, Pecking Order Theory. Teori pertama yaitu Modigliani-Miller (MM). Menurut teori ini tidak ada hubungan antara struktur modal dengan nilai perusahaan. Perusahaan bisa menggunakan 100% hutang. Akan tetapi, teori ini tidak sesuai dengan yang dihadapi oleh PT Indonesia Prima Property, karena antara struktur modal dengan nilai perusahaan masih berhubungan.

Teori kedua, trade off theory, dimana ada hubungan antara struktur modal dengan nilai perusahaan. Perusahaan tidak mungkin membiayai seluruh aktivitasnya dengan hutang. Dalam teori ini terdapat track-off anatara tax benefit/shield (manfaat penghematan pajak atas penggunaan hutang) dan cost financial distress (biaya yang ditimbulkan karena adanya kenaikan resiko kebangrutan akibat besarnya hutang). Jadi, suatu perusahaan itu mendasarkan keputusan pendanaan pada struktur modal yang optimal. Struktur modal optimal dibentuk dengan menyeimbangkan manfaat dari penghematan pajak atas penggunaan utang terhadap biaya kebangkrutan. Penggunaan utang mengakibatkan peningkatan EBIT yang mengalir ke investor, jadi semakin besar utang perusahaan, semakin tinggi nilainya dan harga saham perusahaan. Akan tetapi, hal ini tidak sesuai yang dihadapi oleh PT. Indonesia Prima Property, dimana semakin rendah utang perusahaan, semakin tinggi harga saham perusahaannya. Hal ini dikarenakan tidak terjadi perdagangan, untuk menarik minat investor maka perusahaan menaikkan harga sahamnya. Akan tetapi, resiko dan return-nya rendah.

Teori ketiga, Pecking Order Theory, perusahaan diberi pilihan jika membutuhkan tambahan dana, yaitu menggunakan internal financing (berasal dari laba ditahan dan depresiasi) dan-atau menggunakan external financing (dana yang berasal dari para kreditur dan pemilik perusahaan). Dari kurva dapat dilihat, pada tahun 2004, PT Indonesia Prima Property menggunakan external financing. Hal ini dapat dilihat dari DER perusahaan yang tinggi. Akan tetapi, dari tahun 2005 sampai 2007, perusahaan menggunakan external financing dan internal financing. Namun, internal financing nya lebih tinggi dari external financing. Hal ini dapat dilihat dari komposisi debt rendah dibanding dengan modal perusahaan sehingga DER nya rendah. Perusahaan lebih banyak menggunakan modal sendiri pada tahun tersebut.

B. Kesimpulan

Struktur modal PT Indonesia Prima Property sejak tahun 2004 hingga 2007 mengalami penurunan dengan DER 80,38% (2004), 74,91% (2005), 45,54% (2006), 31,44% (2007). Semakin rendah DER perusahaan maka semakin baik kinerja perusahaan.

Rata-rata penutupan harga saham PT Indonesia Prima Property dari tahun 2004 sampai tahun 2007 terus mengalami peningkatan, hal ini terlihat jelas di dalam kurva yaitu pada tahun 2004 penutupan harga saham sebesar Rp 110, harga penutupan ini mengalami penurunan menjadi Rp 45 pada tahun 2005, kemudian pada tahun 2006 kembali mengalami peningkatan menjadi Rp 300 dan akhirnya pada tahun 2007 meningkat menjadi Rp 310.

Berdasarkan teori struktur modal yang pertama yaitu Modigliani-Miller (MM), kondisi yang oleh PT Indonesia Prima Property tidak sesuai dengan teori, karena antara struktur modal dengan nilai perusahaan masih berhubungan.

Teori yang kedua, trade-off theory, kondisi PT Indonesia Prima Property juga tidak sesuai dengan teori ini karena hutang PT Indonesia Prima Property semakin rendah akan tetapi harga saham perusahaan semakin meningkat. Hal ini dikarenakan tidak terjadi perdagangan, untuk menarik minat investor maka perusahaan menaikkan harga sahamnya. Akan tetapi, resiko dan return-nya rendah.

Teori yang ketiga, Pecking Order Theory, kondisi PT Indonesia Prima Property sesuai dengan kondisi ini. Pada tahun 2004, PT Indonesia Prima Property menggunakan external financing. Hal ini dapat dilihat dari DER perusahaan yang tinggi. Akan tetapi, dari tahun 2005 sampai 2007, perusahaan menggunakan external financing dan internal financing. Namun, internal financing nya lebih tinggi dari external financing. Hal ini dapat dilihat dari komposisi debt rendah dibanding dengan modal perusahaan sehingga DER nya rendah. Perusahaan lebih banyak menggunakan modal sendiri pada tahun tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: