h1

ANALISIS MANAJEMEN MODAL KERJA PERUSAHAAN INDONESIA PRIMA PROPERTY Tbk BERDASARKAN DATA LAPORAN KEUANGAN TAHUN 2004 – 2007

November 29, 2008

Analisis Manajemen Modal Kerja

Selama perusahaan masih beroperasi, modal selalu diperlukan untuk membiayai kegiatan perusahaan sehari-hari serta untuk menjaga kontinuitas perusahaan. Modal kerja adalah seluruh investasi perusahaan ke dalam aktiva lancar yang meliputi persediaan, piutang, kas, dan surat-surat berharga, dimana seluruh investasi diharapkan kembali ke dalam perusahaan dalam waktu paling lama satu tahun.

Sedangkan manajemen modal kerja (working capital management) merupakan manajemen current accounts perusahaan yang meliputi current assets atau aktiva lancar dan current liabilities atau hutang lancar.

Oleh karena aktiva lancar umumnya mencapai hampir 50% dan hutang lancar mencapai hampir 30% dari total financing (total pembelanjaan) maka pengelolaan modal kerja merupakan salah satu aspek penting dari keseluruhan financial management. Perusahaan secara umum harus mempertahankan jumlah modal kerja yang menguntungkan yaitu jumlah modal kerja yang harus lebih besar daripada jumlah hutang lancar.

Modal kerja mengandung dua pengertian pokok yaitu gross working capital yang merupakan total dari aktiva lancar dan net working capital yang merupakan selisih antara aktiva lancar dikurangi hutang lancar. Aktiva lancar harus lebih besar daripada hutang lancar yang secara umum paling tidak berbanding 2:1 dan net working capital paling tidak 1:1. Hal ini dimaksudkan sebagai jaminan kemampuan perusahaan untuk membayar kebutuhan-kebutuhan jangka pendek atau kewajiban finansial jangka pendek berupa hutang-hutang.

Akan tetapi, hal ini berbeda dengan kondisi perusahaan PT Indonesia Prima Property Tbk. Perusahaan memiliki Net Working Capital (NWC) dan Net Operating Working Capital (NOWC) yang negatif dari tahun 2004 sampai tahun 2005.

Pada tahun 2004, Net Working Capital perusahaan PT Indonesia Prima Property sebesar (Rp. 270.801.516.311), tahun 2005 sebesar (Rp. 305.989.008.433), tahun 2006 sebesar (Rp. 323.992.769.374) dan pada tahun 2007 sebesar (Rp.338.693.703.455). Kondisi perusahaan ini bisa dikatakan buruk. Artinya, perusahaan tidak bisa memenuhi jangka pendek dan tidak bisa membiayai aktivitas sehari-harinya. Hal ini disebabkan karena jumlah current liabilities nya lebih besar dari current asset.

Begitu juga dengan NOWC perusahaan PT Indonesia Prima Property, dari tahun 2004 sampai tahun 2005 negatif. Pada tahun 2004 sebesar (Rp. 727.067.858) naik menjadi (Rp. 96.663.108.733) di tahun 2007. Hal ini disebabkan oleh operating current assets nya semakin menurun sedangkan operating current liabilities nya semakin meningkat.

Jika dilihat dari perhitungan periode konversi Inventory dari tahun 2004 hingga 2006, perusahan membutuhkan waktu yang semakin panjang. Pada tahun 2004 perusahaan membutuhkan waktu 1 hari untuk konversi inventory, tahun 2005 perusahaan juga membutuhkan waktu 1 hari, namun pada tahun 2006 dan 2007 perusahaan membutuhkan waktu 2 hari untuk konversi inventory.

Begitu juga dengan receivable collection period perusahan ini menujukkan kenaikan dari tahun 2004 hingga 2007. Pada tahun 2004 sebesar 16 hari, tahun 2005 sebesar 28 hari, tahun 2006 sebesar 27 hari, dan tahun 2007 sebesar 29 hari. Hal ini juga menunjukkan bahwa kinerja perusahaan memburuk, receivable collection period adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan piutang sehingga disini ditunjukkan bahwa perusahaan membutuhkan waktu yang lama untuk memperoleh uang.

Untuk payable defferal period juga semakin panjang. Payable defferal period adalah waktu yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk membayar hutang lancar perusahaan tersebut sehingga untuk membayar hutang lancar pun perusahaan membutuhkan waktu yang lama. Hal-hal inilah yang berpengaruh terhadap CCC perusahaan yang semakin memburuk.

Sedangkan mengenai Cash convertion cycle PT Indonesia Prima Property, Tbk menunjukan adanya sebuah kinerja yang buruk. Cash convertion cycle dalam pengertian yang sederhana adalah penghitungan waktu yang dibutuhkan perusahaan mulai dari perusahaan membeli bahan baku sampai dengan perusahaan mengumpulkan uang dari penjualan barang jadi. Ini ditunjukkan dari hasil perhitungan mulai tahun 2004 perusahaan membutuhkan waktu 4 hari untuk mengumpulkan uang dari penjualan barang jadi, sedangkan tahun 2005 perusahaan membutuhkan 8,8 hari, tahun 2006 perusahaan membutuhkan waktu 3,5 hari, dan kembali memburuk pada tahun 2007 menjadi 11 hari. Jadi, secara keseluruhan CCC perusahaan membutuhkan waktu yang semakin lama sehingga kinerja perusahaan juga semakin buruk.

Kesimpulan

Secara umum kinerja perusahan PT Indonesia Prima Property Tbk buruk, ditunjukkan dari nilai NWC dan NOWC bernilai negatif dan CCC mengalami kenaikan lama hari. Kondisi perusahaan ini bisa dikatakan buruk jka dilihat dari besar NWC perusahaan tidak bisa memenuhi jangka pendek dan tidak bisa membiayai aktivitas sehari-harinya. Hal ini disebabkan karena jumlah current liabilities nya lebih besar dari current asset. Jika dilihat dari NOWC kinerja perusahaan juga dapat dikatakan buruk, ini disebabkan oleh operating current assets nya semakin menurun sedangkan operating current liabilities nya semakin meningkat. Dilihat dari CCC, perusahaan membutuhkan waktu yang semakin lama sehingga kinerja perusahaan juga dinilai semakin buruk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: